Kota
Jambi
dibelah oleh sungai Batanghari, yang merupakan sungai terpanjang di
pulau
Sumatera. Dengan demikian secara geografis Kota Jambi dapat dibagi
menjadi dua bagian yaitu wilayah bagian selatan sungai
Batanghari, yang merupakan lokasi pusat pemerintahan Kota Jambi saat
ini, dan wilayah
bagian utara yang disebut sebagai Seberang. Wilayah Seberang, yang saat
ini terdiri dari dua kecamatan yaitu Danau Teluk dan Pelayangan,
merupakan
permukiman yang lebih awal dihuni oleh mayoritas penduduk Kota Jambi.
Sedangkan wilayah Pasar, sebutan
yang diberikan oleh masyarakat Seberang untuk wilayah selatan sungai
Batanghari, umumnya dihuni oleh pendatang tahap berikutnya yang berasal
dari
berbagai daerah dan suku. Karena sebagian besar wilayah Seberang
merupakan
dataran rendah, yang setiap tahun tergenang oleh banjir sungai
Batanghari, maka pengembangan wilayah ini menjadi sangat terbatas.
Sedang wilayah Pasar yang relatif berada pada dataran yang lebih tinggi
cenderung berkembang lebih cepat sehingga tumbuh menjadi perkotaan, yang
salah satu wilayahnya menjadi lokasi pusat pemerintahan Kota Jambi
yaitu di
Kecamatan Kota Baru.
Penduduk
Seberang menggunakan bahasa Melayu Jambi dengan dialek yang khas,
selanjutnya saya sebut saja dialek Jambi Seberang. Pada
umumnya penduduk yang bermukim di sebelas kelurahan, dahulunya disebut
kampung, di
Seberang menggunakan bahasa yang sama. Dialek ini sesungguhnya
digunakan juga oleh penduduk yang bermukim lebih awal di sepanjang
pinggiran sungai Batanghari bagian selatan seperti di kelurahan
Penyengat Rendah, Buluran Kenali, Teluk Kenali dan Sijenjang. Menurut
beberapa narasumber, ada
sedikit variasi bahasa antar kampung terutama dari intonasi suara ketika
mereka
berbicara. Selain itu ditemukan juga perbedaan kosakata tetapi hanya
beberapa
kata saja. Hal ini sangat dimungkinkan karena adanya perbedaan
keturunan
asal penduduk kampung tersebut. Bagi orang awam, variasi ini
relatif sulit diidentifikasi. Oleh karena itu perlu adanya penelitian
yang lebih komprehensif untuk mengetahui variasi tersebut.
Salah satu hal yang mengkhawatirkan terhadap keberadaan dialek Jambi Seberang saat ini adalah adanya percampuran antara dialek Seberang dengan dialek Pasar, yang sangat dominan dipengaruhi oleh dialek Palembang. Ada kecenderungan dialek Jambi Pasar, yang merupakan "bahasa kota", lebih dominan memengaruhi dialek Jambi Seberang. Akibatnya sejumlah kosakata dialek Jambi Seberang sudah jarang terdengar lagi di kalangan masyarakat setempat, terutama pada generasi muda. Sementara itu penutur asli dialek Jambi Seberang sudah semakin menyusut. Jika keadaan ini dibiarkan terus tidak tertutup kemungkinan dialek Jambi Seberang akan punah. Oleh karena itu melalui blog ini saya mencoba menghimpun kosakata dialek Jambi Seberang dengan harapan dapat menjadi bahan kajian dalam upaya untuk menjaga kelestariannya.
Salah satu hal yang mengkhawatirkan terhadap keberadaan dialek Jambi Seberang saat ini adalah adanya percampuran antara dialek Seberang dengan dialek Pasar, yang sangat dominan dipengaruhi oleh dialek Palembang. Ada kecenderungan dialek Jambi Pasar, yang merupakan "bahasa kota", lebih dominan memengaruhi dialek Jambi Seberang. Akibatnya sejumlah kosakata dialek Jambi Seberang sudah jarang terdengar lagi di kalangan masyarakat setempat, terutama pada generasi muda. Sementara itu penutur asli dialek Jambi Seberang sudah semakin menyusut. Jika keadaan ini dibiarkan terus tidak tertutup kemungkinan dialek Jambi Seberang akan punah. Oleh karena itu melalui blog ini saya mencoba menghimpun kosakata dialek Jambi Seberang dengan harapan dapat menjadi bahan kajian dalam upaya untuk menjaga kelestariannya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar